2 Tawarikh 26:16-19 (TB) Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.
Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas;
mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: "Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini."
Tetapi Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran ukupan.
https://alkitab.app/v/05efed021b7c
Shallom semua bertemu lagi dalam renungan pagi. Hari ini saya berkongsi tentang raja Uzia yg telah menjadi kuat dalam ketenteraan disebabkan TUHAN menolong dia. Dikemuncak keagungan kerajaannya, raja Uzia melanggar ketetapan hukum bait suci, dia memasuki bilik Kudus untuk membakar ukupan. Ingat lagi hukum bilik Kudus, hanya imam keturunan Harun saja yg dibenarkan masuk untuk melayani. Walapun raja tidak dibenarkan. Tuhan Yesus ketika menjadi manusia tidak pernah memasuki bilik Kudus di bait suci di Yerusalem. TUHAN murka kepada raja Uzia dengan menimbulkan penyakit kusta saat itu juga. Raja Uzia diasingkan di dalam rumah pengasingan sampai akhir hayat. Kesiankan. Hari ini gereja tidak ada lagi batas ruangan semua boleh melayani dan pentas gereja pelbagai guna, tetapi betulkah demikian? Saya fikir kita masih bertanggungjawab untuk menguduskan gereja, diri kita sendiri dan bangunan gereja itu sendiri. Gereja khas/kudus sebagai tempat memuji dan menyembah TUHAN, bukan tempat meraihi dana gereja, bukan tempat bermain nasip dengan cabutan bertuah pertandingan itu dan ini. Itu sebab bila kita masuki gereja kita tidak merasa apa apa, sebab kita tidak kuduskan gereja kita. Mari kita bertaubat kalau masih lagi tidak dpt menguduskan ruangan gereja, khas untuk memuji dan menyembah TUHAN. Christmas bercerita tentang pengudusan diri dan gereja. Salam damai untuk kita semua, Merry Christmas.
✝emanuelministry.blogspot.com 12.12.19 Kota Kinabalu.
Tetapi imam Azarya mengikutinya dari belakang bersama-sama delapan puluh imam TUHAN, orang-orang yang tegas;
mereka berdiri di depan raja Uzia dan berkata kepadanya: "Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini."
Tetapi Uzia, dengan bokor ukupan di tangannya untuk dibakar menjadi marah. Sementara amarahnya meluap terhadap para imam, timbullah penyakit kusta pada dahinya di hadapan para imam di rumah TUHAN, dekat mezbah pembakaran ukupan.
https://alkitab.app/v/05efed021b7c
Shallom semua bertemu lagi dalam renungan pagi. Hari ini saya berkongsi tentang raja Uzia yg telah menjadi kuat dalam ketenteraan disebabkan TUHAN menolong dia. Dikemuncak keagungan kerajaannya, raja Uzia melanggar ketetapan hukum bait suci, dia memasuki bilik Kudus untuk membakar ukupan. Ingat lagi hukum bilik Kudus, hanya imam keturunan Harun saja yg dibenarkan masuk untuk melayani. Walapun raja tidak dibenarkan. Tuhan Yesus ketika menjadi manusia tidak pernah memasuki bilik Kudus di bait suci di Yerusalem. TUHAN murka kepada raja Uzia dengan menimbulkan penyakit kusta saat itu juga. Raja Uzia diasingkan di dalam rumah pengasingan sampai akhir hayat. Kesiankan. Hari ini gereja tidak ada lagi batas ruangan semua boleh melayani dan pentas gereja pelbagai guna, tetapi betulkah demikian? Saya fikir kita masih bertanggungjawab untuk menguduskan gereja, diri kita sendiri dan bangunan gereja itu sendiri. Gereja khas/kudus sebagai tempat memuji dan menyembah TUHAN, bukan tempat meraihi dana gereja, bukan tempat bermain nasip dengan cabutan bertuah pertandingan itu dan ini. Itu sebab bila kita masuki gereja kita tidak merasa apa apa, sebab kita tidak kuduskan gereja kita. Mari kita bertaubat kalau masih lagi tidak dpt menguduskan ruangan gereja, khas untuk memuji dan menyembah TUHAN. Christmas bercerita tentang pengudusan diri dan gereja. Salam damai untuk kita semua, Merry Christmas.
✝emanuelministry.blogspot.com 12.12.19 Kota Kinabalu.
Comments
Post a Comment